Jumat, 23 November 2012

Motor Vs Sepeda (Juara I Lomba Esai Kopma Addict 2012)




Satu kata yang menjadi status sosial baru saya adalah “Mahasiswa”, kata yang sudah tidak asing ditelinga setiap orang yang mendengarnya. Bermacam-macam arti mahasiswa yang dapat diungkapkan oleh banyak orang. Kata orang menjadi mahasiswa itu adalah sebuah impian. Bagai anugerah yang luar biasa bagi yang dapat menyandangnya. Karena hanya sebagian kecil dari manyarakat Indonesia yang dapat menikmati pendidikan di perguruan tinggi. Kini Universitas Pendidikan Indonesia tempat saya merealisasikan peran saya menjadi seorang mahasiswa.
            “HIDUP MAHASISWA” itulah sebuah kata penyemangat yang menggemakan ruangan yang pertama kali dikujungi oleh mahasiswa baru UPI. Tempat tersebut merupakan tempat pertama dan terakhir yang pasti akan menjadi  bagian dari sejarah mahasiswa UPI, yaitu gedung gymnasium. Bagai tamu yang pertama kali berkunjung ke sebuah tempat, tentunya memerlukan seorang pemandu untuk mengenal tempat-tempat di lingkungan tersebut. Beruntunglah kami semua sebagai mahasiswa baru mendapatkan kakak pemandu dalam masa orientasi kampus.
            Empat hari telah berlalu hari-hari mahasiswa baru diisi dengan acara tersebut, banyak pelajaran yang dapat kami ambil. Kini mulailah saya menjadi bagian dari masyarakat UPI. Bagaikan mendaki sebuah bukit saat kemanapun saya melangkahkan kaki di UPI. Awal saya memasuki UPI sudah terasa aroma sejuknya atmosfer yang akan melahirkan calon-calon tenaga pendidik.
            Bangunan yang pertama saya lihat saat melewati gerbang utama (gate 1) UPI adalah masjid yang berdiri tegak mewah dan elegan yaitu masjid Al-Furqon yang berfungsi sebagai Islamic Tutorial Center, begitu berjalan disetiap lorong masjid tersebut terasa sepoi-sepoi angin menyentuh kulit setiap pengunjung masjid tersebut. Penataan setiap ruangan yang sangat rapi dan teratur, membuat setiap pengunjung merasakan kenyamanan. Keamanan yang terjamin membuat pengunjung tidak khawatir dan keramahan para petugas pengurus masjid.
            Beranjak menuju gerbang UPI (gate 2) berdiri sebuah bangunan yang selalu ramai dikunjungi oleh hampir semua mahasiswa UPI, disana banyak sekali kegiatan produktif yang dilakukan oleh para mahasiswa, tak lain tempat itu adalah KOPMA BS UPI, siapa yang tak butuh dengan tempat tersebut? Pastinya semua mahasiswa rajin mengunjungi dan beraktifitas di tempat tersebut. Bahkan KOPMA BS UPI tidak terbatas pada aktifitas transaksi mahasiswa, disana juga terdapat sebuah pusat UKM yaitu KOPMA BS UPI, yang terdiri dari mahasiswa yang tercatat sebagai anggota Koperasi Mahasiswa, sebagai bentuk realisasi dari pendidikan yang hanya sebagian mahasiswa dapatkan yaitu tentang Perkoperasian.
            Kemajuan teknologi karena globalisasi memang tidak bisa dihindari. Karena kita juga bisa memanfaatkan kacanggihan teknologi untuk sebuah kemudahan. Namun seiring dengan berjalannya waktu ada satu hal yang berbeda dari kampus UPI. Atmosfer yang saya rasakan ini berbeda setelah seluruh mahasiswa aktif kembali di lingkungan kampus. Saat saya berjalan kaki dari kost-an yang kurang lebih berjarak 500 meter menuju kampus. Udara sejuk tak lagi saya dapatkan karena setelah saya amati, banyak sekali kendaraan yang mengeluarkan kepulan asap yang mengandung C02 yang membuat nafas menjadi sesak. Kemudian saat saya ingin menyeberang jalan pun, menjadi tidak bebas dan cukup susah karena terlalu banyaknya kendaraan yang melewat. Sehingga perlu waktu yang cukup lama agar bisa menyeberang jalan dengan selamat. Suara-suara bising yang seringkali terdengar saat perkuliahan dikelas. Tanpa sadar suara bising itu sangat merusak suasana kondusif yang harusnya tercipta di kelas. Disaat saya dan teman-teman sedang mendengarkan penjelasan dari dosen, tiba-tiba suara dosen menjadi tidak terdengar karena pengguna kendaraan (khususnya pengguna motor) yang suara motornya mengalahkan suara dosen.
            Dengan banyaknya kendaraan yang memenuhi lokasi parkir di UPI, terkadang saya melihat fakta dari sebuah lucunya masyarakat indonesia ini. Setiap kali saya melihat lokasi parkir itu pasti dipadati oleh motor-motor dan terlihat seperti mainan yang berjejer. Padahal bila kita tahu di negara yang memproduksi sepeda motor tersebut yaitu Jepang, justru mereka tidak menggunakan produknya tersebut. Namun mengapa dengan masyarakat kita yang hampir setiap orang memaksakan untuk memiliki sepeda motor tersebut. Dan yang lebih aneh, mengapa mahasiswa pun ikut-ikutan menggunakan produk barang tersebut. Yang sebenarnya banyak hal-hal yang negatif yang ditimbulkan dari barang tersebut. Diantaranya merusak atmosfer yang seharusnya kita bebas menghirup udara bersih, lalu menghilangkan kebiasaan jalan sehat, dan terkadang kita tergiur dengan sistem kredit bulanan untuk mendapatkan produk sepeda motor tersebut.
            Kenyataannya hampir sebagian besar mahasiswa UPI menggunakan kendaraan bermotor. dan yang lebih ironisnya lagi, adapula mahasiswa yang letak kost-annya tidak lebih dari 1 KM masih saja pergi ke kampus menggunakan sepeda motor. Padahal alangkah lebih baiknya jika mahasiswa tersebut jalan kaki menuju kampus. Karena dengan berjalan kaki menuju kampus termasuk langkah sederhana untuk sebuah kesehatan kini dan masa mendatang. Tentunya kampus UPI juga akan lebih indah dengan dihiasi pemandangan aktivitas mahasiswanya yang lebih mengutamakan jalan kaki. Tapi kenyataannya saya dan teman-teman yang lainnya pun merasa tidak nyaman saat berjalan kaki dikampus. Karena kita yang berjalan kaki merasa dirugikan dengan atmosfer yang kita hirup sudah tidak lagi steril. Keamanan para pejalan kaki juga menjadi sedikit tidak aman. Lalu hal yang paling penting suara kendaraan bermotor yang bising itu cukup mengganggu kondisi saat perkuliahan dikelas.
            Miris melihat suasana kampus saya yang sudah berubah penuh dengan kepulan asap CO2 , menghirup udara segar juga menjadi sulit, berjalan kaki dengan nyaman pun menjadi terasa tidak nyaman. Tapi ada satu hal budaya yang ingin saya terapkan di kampus UPI ini, yaitu membudayakan sepeda mahasiswa. Pasti akan terlihat lebih indah dan rapi jika setiap mahasiswa menggunakan sepeda bukan motor. Jadi untuk setiap mahasiswa UPI diperbolehkan hanya menggunakan sepeda. Karena banyak sekali manfaat yang bisa dirasakan tidak hanya pada pengguna sepeda tersebut tapi pengguna jalan lainnya yang tidak menggunakan sepeda.
            Manfaat jika setiap mahasiswa UPI menggunakan sepeda diantaranya dengan mengayuh (menggoes) sepeda itu termasuk salah satu olahraga kecil untuk melatih otot-otot kaki, terbebasnya udara yang dihirup dari unsur CO2 , terciptanya suasana aman dan nyaman untuk setiap pejalan kaki, dan yang paling penting terpelihara lingkungan UPI yang bebas asap kendaraan dan salah satu upaya pemerintah yaitu “Go Green” karena pemanasan global bisa diperkecil dengan usaha kita untuk menghijaukan alam ini.
            Untuk sebuah solusi dari kondisi kampus yang udaranya sudah tercemar dengan asap kendaraan, tidak menutup sebuah harapan jika untuk 1 tahun kedepan, dikampus UPI terdapat tempat Sepeda Mahasiswa. Yang fungsinya untuk setiap mahasiswa bisa menggunakan sepeda kampus tersebut untuk beraktivitas di kampus UPI. Untuk sebuah contoh, mahasiswa yang menggunakan motor hanya diperbolehkan menggunakan motor sampai depan gerbang UPI dan setelah melewati gerbang UPI menggunakan sepeda kampus menuju ruang kelas jika jarak dari gerbang menuju kelas itu cukup jauh. Kemudian untuk mahasiswa yang ingin mengelilingi kampus UPI bisa menggunakan sepeda kampus tersebut. Saya yakin lingkungan UPI akan semakin bagus dan bebas polusi. Go Green UPI !

0 komentar:

Poskan Komentar